Kaktus.
"Kamu yang membeli kaktus-kaktus ini? Untuk apa?"
Ibu bertanya pada saya. Oh, tentu saja karena saya jarang membeli sesuatu untuk ditaruh di rumahnya, apalagi setelah kepulangan saya ke rumah sejak perpisahan saya dengan E dua tahun lalu.
"Ya, bagus ya?" Aku menjawab.
Sepertinya ia tak puas dengan jawaban yang ia dengar, dan bertanya lagi.
"Kenapa membeli kaktus? Bukankah kau suka Aster?"
Saya menarik napas.
"Aku suka Aster, tapi aku lebih tertarik dengan kaktus. Aku pikir aku bisa merawatnya." Jawab saya jujur.
Saya memang berpikir bisa merawat tanaman berduri itu dengan baik.
Kaktus dapat hidup dengan sedikit perhatian. Bentuknya terlihat arogan dengan duri yang mengelilingi tubuhnya. Duri tersebut tak hanya membuatnya bernilai, tapi juga menjaganya dalam bertahan hidup. Kaktus begitu cantik.
"Karena kaktus dapat hidup tanpa sering kau siram?"
Perkataan Ibu mewakili seluruh anggapan yang sedang saya pikirkan.
Saya menganggukan kepala, Ibu memalingkan wajahnya dan memindahkan posisi kaktus-kaktus tersebut ke dekat jendela.
"Bagaimanapun, kaktus adalah tanaman. Tanaman membutuhkan siraman dan pupuk agar tumbuh subur. Sebagaimana hubungan setiap manusia, satu sama lain membutuhkan pengertian, dan komunikasi. Agar dapat tumbuh abadi."
Ibu mengakhiri pembicaraannya dan kembali ke kamar. Saya diam, karena tak ingin menjadi manusia yang membutuhkan siraman, dan pupuk dari manusia lain agar dapat hidup abadi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar